Ayah, Aku Memaafkanmu

776 views

Oleh: Ilham Raudhatul Jannah (Santri Pesantren Media)

Waktu itu aku lagi ngumpul-ngumpul dengan keluarga besarku di teras rumah nenekku. Tiba-tiba datang dari arah kanan mobil mewah berwarna hitam, dan berhenti tepat di depan rumahku. Kemudia turun laki-laki separuh baya dari mobil itu, menghampiri kami. Dengan baju berjas hitam dan sepatu hitam yang mengkilat, sepertinya baru disemir. Tadinya aku tidak mengenalinya tapi ketika dia semakin mendekat, akhirnya aku tahu siapa laki-laki itu. Tidak salah lagi. Dia adalah ayahku.

Kami semua tercengang kaget menyaksikan kedatangan ayahku itu. Ketika beberapa langkah, hampir mendekati rumah nenekku. Dia langsung berlari, memelukku.

Salsa! Maafkan ayah Sa!” mendengar tangisan itu membuat aku serasa ditusuk-tusuk pisau.

Aku hanya diam membisu, dengan segala rasa benci yang menggorogoti jantungku. Aku benci ayahku. Lalu aku melepaskan pelukan ayahku itu. Spontan ayahku langsung sujud di kakiku.

”Salsa,  maafkan Ayah! Apa yang harus Ayah lakukan agar Salsa mau memaafkan Ayah? Maafkan Ayah Sa,”dia memohon-mohon kepadaku. Aku menangis. Aku bingung.

”Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau ayahku sujud seperti ini di kakiku, aku tidak suka! Kenapa seolah-olah aku seperti anak durhaka!” aku membatin.
Ketika ayahku sujud di kakiku, aku perang dengan batinku sendiri, di satu sisi sebenarnya aku kasihan terhadap ayah, aku tidak mau dikatakan anak durhaka. Tapi rasa benciku mengalahkan rasa kasihan itu.

”Nggak! Ayah yang salah, dengan gampangnya ayah minta maaf setelah apa yang ayah lakukan ke aku dan ibu. Kenapa ayah baru minta maaf sekarang, setelah ibu lama tiada! Aku benci Ayah! Ayah jahat!” aku teriak-teriak dalam hati.

”Pergiiiiii! Pergi kamu ngapain kamu ke sini!” sambil nangis aku lari ke dalam rumah nenek, meninggalkan ayah yang masih duduk lemas di lantai.

Saudaraku yang menyaksikan termasuk nenekku, tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya diam dan saling berpandangan. Mungkin mereka bingung mau membenarkan siapa.

Aku mengintip di jendela, ayahku belum pergi juga, Ia masih duduk lunglai di lantai sambil menangis. Kemudian ayah melangkah akan pergi. Aku bingung. Aku harus bagaimana.

Ketika ayah akan masuk mobil. Cepat-cepat aku berlari dan mencegahnya. Aku menangis. Lalu aku memeluknya.

”Ayah! Salsa maafin Ayah!”aku menangis terisak-isak di pelukannya. Ayah hanya membalasnya dengan senyuman. Kemudian ayah masuk mobil.

”Sa! Bangun! Udah adzan!” Nenek membangunkan aku, ternyata itu mimpi.

”Tadi aku mimpi apa ya? Astaghfirullahal ’adzim. Ayah!” gumamku. Aku pun menangis. Nenek kaget melihat aku tiba-tiba bangun langsung menangis.

”Sa, kamu kenapa? Hey! Kenapa?” Nenek duduk di tempat tidurku.

”Nenek…hik..hik..hik…”aku langsung peluk nenek.
”Salsa tadi mimpi ayah Nek,”aku makin menangis.

Ketika aku menceritakan mimpi itu ke Nenek, Nenek ikut menangis. Dia makin erat memelukku.

”Sa, sudahlah lupakan rasa benci kamu ke ayah. Ayah sudah lama tiada, kamu masih menyimpan rasa benci itu? Nggak baik Sa. Kasihan ayah di sana. Ayah pasti tersiksa, karena Salsa tidak mau memaafkannya. Dengarkan Nenek Sa, memaafkan adalah sesuatu yang mulia, dan itu sangat disukai Allah. Nenek mengerti perasaan Salsa, tapi itu masa lalu Sa. Lupakan. Maafkan ayahmu,”Nenek menasehatiku, aku tidak bisa membantah. Karena Nenek benar.

ooOoo

”Sa, pulang kerja, antar aku ke pasar yuk.  Aku mau beli jilbab nih! Aku baru gajian,”kata Ayu mamerin amplop coklat. Sekilas aku meliriknya.

”Ih! Kok diam aja! Ayo dong!”melihat aku diam saja, malah sibuk ngetik, kemudian Ayu duduk di sebelahku dan malah menutup laptopku.

”Ayu apaan sih, aku harus menyelesaikan tugasku,”aku membuka kembali laptopnya.

”Lagian kamu sih diam aja, mau ya?”dia menyenggol-nyenggol bahuku. Ayolah, sebentar aja,”katanya sambil memelas.

”Iya cerewet! Kebetulan nih jilbabku udah pada kecil,” sindirku.

”Huh! Dasar! Bilang aja minta dibelikan, ya okelah kalau gitu…,”sebelum dia melanjutkan omongannya, aku sudah memotong.

”Hey Yu, kamu nggak kerja? Kok malah di sini?”tanyaku heran.

”Lihat ini jam berapa?”dia memperlihatkan jamnya ke mukaku.

”Oh iya ya, jam makan siang ya? Tapi kok bisa keluar sih, bukannya nggak dibolehkan?” tanyaku lagi.

”Ya bisa dong, Ayu gitu lho,”katanya dengan bangga.

Memang tempat kerja kami berbeda, tapi kami tetanggaan. Maksudnya tempat kerja Ayu persis di sebelah kantorku. Aku bekerja sebagai guru les dan Ayu bekerja sebagai karyawan di toko roti.

Kami bersahabat dari kecil. Sekolah di MDA, MTs dan MA yang sama. Dan sekarang kuliah di universitas yang sama juga.

Setiap hari kami pulang pergi Bogor-Banten (tepatnya pinggiran Banten, yang lebih dekat ke Jakarta). Memang sih jauh. Tapi kami lebih senang seperti itu. Dari pada harus nge-kos, yang mau mandi harus ngantri, repot kalau mau makan, lagi pula kalau aku nge-kos, nenekku dengan siapa. Aku tinggal berdua dengan nenekku. Aku anak tunggal, orang tuaku sudah tiada.

Ayu juga sama seperti itu, cuma dia tinggal berdua dengan adiknya yang sekarang SD.  Setelah ayahnya meninggal, Ibunya menikah lagi dan sekarang ikut suaminya yang tugas di Papua.

Tapi kalau lagi lembur kerja atau mau ujian, biasanya kami numpang tidur di rumah saudara di sini.

Boleh dibilang, kami mandiri. Soalnya kami menafkahi dan mencukupi kebutuhan kami berdua dengan hasil kerja sendiri.

ooOoo

”Sa, yang ini bagus ya? Warna merah Sa, cocok banget buat kamu, di bawahnya ada renda-rendanya nih Sa,”kata Ayu meyodorkan jilbab itu kepadaku.

”Ah Yu, terlalu mencolok. Nggak ah, mengundang syahwat nanti,” aku menolak sambil tersenyum, takut Ayu tersinggung.

”Gitu ya? Ya udah deh kalau gitu, kita pilih yang lain,” ajaknya,

”Nih orang aneh banget sih, sebenarnya siapa yang mau beli, kenapa dia sibuk milihkan buat aku. Dasar aneh,”aku menggumam.

”Yu, sebenarnya siapa yang mau beli sih, kenapa kamu sibuk memilihkan baju untuk aku?” Tanyaku penasaran.

”Kamu nggak ingat Sa, ini hari apa?” kata Ayu mencoba mengingatkan.

”Ya Ini hari senin,”jawabku pendek.

”Bukan itu Sa, ya udah deh, sekarang gini aja, sekarang tanggal berapa?” Ayu berusaha mengingatkanku lagi.

”Ya tanggal 21, iya kan? Terus apa hubungannya,”jawabku santai.

”Iiih dodol banget sih kamu Sa, ini hari ulang tahun kamu! Masa lupa sih sama tanggal lahir sendiri,”katanya kesal.

”Hahahah… iya ya.. kok aku lupa ya? Lagian emang harus diistimewakan gitu?” aku bertanya yang membuat Ayu mengernyitkan dahi.

”Apa?! Ckckck… sini deh, duduk…duduk..” Ayu menarik tanganku untuk duduk di bangku, yang kebetulan ada di belakang kami.

”Eh Sa, pertanyaan kamu aneh banget sih, yai yalah harus diistimewakan. Artinya itu kita bersyukur dipanjangkan umur, masih ada umur. Masih hidup,”jelasnya.

”Oh gitu ya? Jadi ceritanya kamu kasih hadiah hanya ketika aku ulang tahun aja gitu? Ayu dengar ya, dalam Islam itu tidak ada merayakan hari ulang tahun. Ngasih hadiah pun tidak ada batasan waktunya. Kalau bisa ngasih hadiahnya setiap hari. Hari raya kita cuma ada dua, idul fitri dan idul adha,”kataku dengan semangat.

”Aku tahu, tapi kitakan nggak potong kue atau tiup lilin, Sa. Aku ngasih hadiah ini, ya karena kamu adalah saudara aku. Wajar kan? Lagian, emangnya aku kasih hadiah kamu hanya ketika ulang tahun aja? Perasaan nggak. Setiap gajian bukannya aku suka ngasih hadiah. Aku juga nggak bermaksud merayakannya kayak orang-orang kafir. Rencananya, nanti malam aku mau ngajak kamu ngaji bareng nanti di taman, sebagai rasa syukur dikasih kesempatan hidup sampai detik ini,”jelasnya panjang lebar. Aku hanya angguk-angguk. Tapi dalam hati aku terharu sekali.

”Makasih ya Ayu, aku senang… jazakillah khioron ukhti…”kataku berkaca-kaca.

”idih! Apa-apaan sih Sa, pake nangis segala lagi. Kita udah kuliah lho, udah kerja juga, bukan anak SMP lagi,” dia menggodaku. Aku pun memeluknya.

Memang setelah nenek dia adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku, dia yang selama ini selalu memberikan semangat kepadaku. Semoga sampai kapan pun kami akan selalu bersahabat.

”Udah ah! Ayo pilih-pilih dulu!” dia segera beranjak dan mengajakku kembali memilih jilbab.

ooOoo

Malamnya itu aku dan Ayu, mengaji al-Quran bareng. Di tengah-tengah membaca al-Quran itu aku menagis. Sesak rasanya.

”Sa, kamu nangis? Pasti terharu ya?” tanya Ayu sok tahu.

”Bukan Yu, aku ingat tentang mimpi semalam,”kataku sambil mengusap air mata.

”Emang kamu mimpi apa Sa?” tanya Ayu lagi, penasaran.

Aku menceritakan tentang mimpiku ke Ayu. Mimpiku bertemu dengan ayah dan di mimpi itu ayah memohon-mohon untuk dimaafkan dengan sujud di kakiku.

”Berarti ayah kamu itu pengen kamu maafkan Sa, udah lah Sa, masa lalu biarkan berlalu, walaupun aku tahu itu sakit. Tapi kan nggak ada salahnya memaafkan Sa, apalagi itu ayah kandungmu sendiri dan ayah kamu sudah meninggal, Sa. Eh, benci yang sudah di luar batas seperti itu bisa membuat kamu secara tidak langsung menjadi anak durhaka lho. Naudzubillahi min dzalik,” komentar Ayu panjang lebar.

”Salsa maafkan. Ayolah, Sa. Coba. Pasti kamu bisa. Gimana kamu mau jadi wanita sholihah kalau memaafkan ayah kandungmu sendiri nggak,” tambahnya lagi.

”Tapi bagaimana dengan 13 tahun yang lalu Yu, dia sudah menghancurkan hati Ibu, dia menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan ibu, lalu kemana sosok ayah yang seharusnya menjagaku dari anak laki-laki yang jahil dulu, di mana sosok ayah yang seharusnya jadi idolaku. Selama ini ibu yang banting tulang bekerja untuk menafkahi kami, di mana dia? Apa yang selama ini yang sudah dia berikan untuk kami Yu? Ketika ayah diterima lagi oleh ibu sekaligus dimaafkan, dia malah memperlakukan kami tidak baik, dia selalu buat ibu menangis, dia selalu pukul ibu, dan hampir setiap hari aku dibuatnya menangis juga. Aku dan ibu dibentak-bentaknya Yu,” air mata yang sedari pagi tadi kutahan, akhirnya pecah juga. Cukup buat aku lega.

”Iya aku ngerti, aku ngerti perasaanmu, Sa. Tapi itu masa lalu udah 13 tahun yang lalu. Ayahmu juga sudah menyesali perbuatanmu. Istighfar Sa, rasa benci kamu sudah membutakan mata hati kamu. Percaya sama aku Sa, memaafkan akan buat kamu tenang. Sekarang gini aja, gimana kalau anakmu nanti seperti kamu, tidak bisa memaafkan orangtuanya. Emangnya kamu nggak sedih?” bujukan Ayu, buat aku luluh.

”Mungkin memang sudah saatnya aku memaafkan ayah, benar kata Nenek, benar juga kata Ayu, aku nggak mau jadi anak durhaka. Insya Allah deh akan aku coba. Ya Allah ampuni aku,”gumamku dalam hati.

”Gimana kalau rasa benci itu ada lagi Yu?” tanyaku pada Ayu.

”Jangan diungkit-ungkit, jangan diingat-ingat. Lupakan,”jawab Ayu, singkat, padat dan jelas.

ooOoo

”Ayu! Cuti kerja nanti, antar aku ke Cianjur ya. Aku mau ziarah ke makam Ayah, insya Allah aku memaafkan Ayah, Yu,” kataku meyakinkan Ayu.

”Serius kamu Sa, subhanallah… aku senang dengarnya, tenang aja Sa. Sasti aku temani kok,” kata dia dengan mata yang berbinar-binar.

-SELESAI-

Catatan: Cerpen ini adalah tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media

ayah cerpen fiksi santri

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait