Arus Waktu

160 views

Arus Waktu

Langit kelabu. Awan gelap berarak menutupi langit di atas sekolahku. Rinai mengetuk-ngetuk atap, sementara kawan-kawanku berlarian ke bawahnya. Jam masih menunjukkan pukul sebelas kala aku berjalan menyusuri koridor di lantai dua, untuk kemudian menuruni tangga.

Hujan mulai turun, perlahan menderas begitu aku menginjak lantai dasar sekolah. Berbelok, aku berjalan menyusuri koridor di sayap kanan. Langkahku teratur, ditemani alunan suara hujan. Pandanganku kabur. Sekelilingku bagai percepatan arus waktu, mengabur. Mataku mencari kemudian terkunci pada satu titik, dia. Padanya, aku menggeram lemah tapi tanganku terkepal, gerah. Penuh amarah, aku melangkah mendekat.

Tanganku melayang, terlalu cepat tapi penuh kekuatan. Gema suara tamparan menyapa telingaku, sementara tanganku kebas. Tersenyum, aku menatap puas padanya. Namun belum dua detik, kerah bajuku ditarik naik. Kakiku melayang.

Hal terakhir yang kuingat, tubuhku terhempas kemudian menabrak entah apa. Punggungku berdenyut, perih dan nyeri. Sementara dari jauh kulihat senyumnya mengembang bagai duri. Dan setelahnya…gelap.

 

Dingin. Tubuhku menggigil dan kaku, mengambang bagai di ruang hampa. Aku tak berani membuka mata. Suasana di sekelilingku sepi. Tak lama, samar kudengar suara-suara letupan lembut yang menangkan. Tapi belum tiga detik berlalu, suara-suara letupan yang saling tumpang tindih terdengar di telingaku. Semakin lama, semakin jelas, menabrak gendang telingaku yang berdenging kemudian menghempas tubuhku.

Aku berputar-putar bagai terkena sapuan ombak. Tiap sendiku melayu membuat perutku mual. Tarikan napasku satu-satu, dadaku sesak. Ketika aku mengambil napas panjang, pangkal hidungku ngilu. Air memenuhi rongga dada, membuatku terbatuk. Tepat saat itu, mataku membuka dan energi memenuhi tiap otot tubuhku.

Napasku tertahan ketika aku sadar, aku melayang di air! Aku menggerakkan tangan, mencoba berenang. Tiap gerakanku, buih mengekor. Belum sampai di gerakan ke lima, tenggorokanku terasa terbakar, sementara udara yang kupunya menguap. Kakiku terasa berat, menuntunku masuk lebih dalam ke dasar air. Sementara aku terbatuk hebat, menyisakan gelembung-gelembung udara. Hingga lagi-lagi…gelap.

 

Kilatan redup lampu menyapa ketika aku membuka mata. Aku masih melayang di tengah air, dengan buih mengekor di tiap gerakanku, dan napasku seteratur di daratan. Aku berputar, berusaha memastikan sesuatu. Kini, aku bagai berada di dimensi lain. Banyak gelembung di sekelilingku, bentuknya bulat tidak stabil dengan gambar bergerak hitam-putih di dalamnya. Memberikan sensasi lampu blitz dari kamera generasi pertama. Dan diantara gambar itu, ada aku.

Aku mencoba melangkah, mendekati salah satu gelembung, tapi menghasilkan sebuah lompatan besar, membuatku meluncur dan merangsek masuk ke dalamnya. Seketika, aku berada di dalam kamar mandi.

“Eh, Sha, abis pulang sekolah ke rumah Rena, yuk? Deket, kok, tinggal jalan kaki aja.”

Aku melirik ke asal suara. Tiga orang berkumpul, saling berhadapan dipenuhi senyum ceria. Mencoba meredam rasa kaget dan senang, aku mulai bernostalgia. Ini adalah memori. Memori ketika aku masih SD dulu, bersama teman-temanku. Yang kuingat masa itu, hanya bersenang-senang dengan permainan juga perjalanan yang kulakukan bersama mereka.

Dengan cepat namun terasa lembut, kilasan memori dari tiap perjalanan kami memenuhi pandanganku. Membuatku merindu. Andai aku masih bisa seperti dulu. Sayang, hubungan kami terputus karena terlalu banyak perubahan di antara kami semua. Sangat…banyak perubahan.

“Apa sih, Sharon! Ngga usah sok kepedean karena suara kamu bagus, yah! Sombong banget, sih!”

Aku menengok ke belakang. Mataku menangkap dua orang berseragam SD saling bersitegang sementara penonton mengelilingi mereka.

“Apaan, sih!”

“Kamu yang apaan. Ngga usah ngomong di belakang kalo suara aku jelek, kali!”

“Aku ngga pernah,”

“Halah, banyak omong!”

Aku menahan diri untuk tidak melangkah mundur. Ini mulai menjengkelkan. Seharusnya tidak ada ingatan ini. Aku tidak pernah mengingatnya lagi sejak aku lulus SD. Jadi seharusnya tidak ada ingatan dari kejadian ini. Kejadian yang membuatku nyaris menjadi objek pembulian.

Ini memuakkan. Ingatan itu membuat perutku mual. Aku melangkah mundur, menghasilkan satu tarikan besar, membuatku terdorong ke belakang. Tubuhku terlempar, keluar dari gelembung kemudian memasuki gelembung yang lain, menghasilkan suara ‘blup’ yang teredam. Seketika, aku sudah berada di depan kelas.

Ramai suasana kelas, diiringi riuh rendah suara penghuninya membuatku mengukir senyum, sedikit menghilangkan rasa mualku. Meski hitam-putih, aku tahu siapa saja penghuninya. Teman-temanku saat SMP dulu. Lagi-lagi, aku dilanda rindu.

“Iya, tah? Weh, gua mau nonton, ah. Kemaren gua nonton Cinderella ama emak gua di bioskop, kagak seru lu teh. Mending action, gak ngantuk jadinya,”

“Males ah, lagi ga seru film-filmnya di bioskop. Pen streming Asa aja, gua. Dia ada film baru soalnya, hahaha…”

Aku menengok ke pintu kelas. Lima orang perempuan berjalan masuk sambil mengobrol ria. Dan salah seorang diantara mereka, adalah aku. Aku masih ingat hari itu. Kami baru kenal kurang dari satu bulan. Keadaan memaksa kami mengenal satu sama lain hingga berakhir dengan pertemanan. Sangat menyenangkan kala itu. Kami berbagi terlalu banyak hal, bahkan sampai ke masalah yang dianggap kompleks.

Aku tertegun, merutuki pikiranku sebelumnya. Benar juga, kami berbagi terlalu banyak hal. Tiba-tiba sekitarku mengabur dengan cepat, hingga menampakkan suasana di kamar mandi.

“Gua gak tau kalo Sharon anak panti. Gak nyangka gua. Emak-bapaknya gak jelas lagi, jangan-jangan anak haram!”

Tawa berderai sementara tanganku mengepal, gatal. Kulirik diriku sendiri yang duduk, menahan tangis di kloset duduk di bilik kamar mandi. Ini kedua kalinya, kedua kalinya aku mendengarkan hal yang sama.

“Klise banget, lu teh. Pinter, sok kecakepan, populer, eh taunya anak panti.”

“Asal masih berguna, mah, baikin aja. PR gua numpuk, nih!”

Tubuhku menggigil, ketakutan. Tapi hatiku marah dengan semua hinaan. Pada akhirnya aku tidak bisa melawan, bahkan untuk sekedar membela diriku sendiri.

Aku masih ingat semua runtutan kejadiannya bagai kaset rusak di pikiranku. Tapi aku tidak ingin memikirkannya. Sakitnya akan berkali-kali lipat rasanya jika diingat kembali. Sakit terhadap penghianatan atas kepercayaan yang aku berikan pada mereka.

Mungkin, ini terjadi karena pikiran dangkalku terhadap definisi pertemanan. Dunia itu lebih kejam dari khayalan. Seharusnya aku tidak kaget, teman tidak berarti mengerti dan mau menerima apa adanya. Seharusnya aku sadar lebih cepat kalau terlalu banyak definisi teman. Dan untuk mempertahankan eksistensi, dibutuhhkan teman yang popular untuk dimanfaatkan. Seperti aku.

Aku tersenyum miris, mengasihani keadaanku sendiri. Sementara perlahan, keadaan demi keadaan di sekelilingku berubah. Menuntuku terus menuju neraka duniaku sendiri.

“Apa sih, lu, Sha. Capek gua sama lu, lebay banget. Banyak anak yatim piatu, tapi gua liat mereka biasa aja. Ngga usah lebay mentang gak ada ortu, deh.”

Dadaku ngilu. Sakit…. Karena itulah aku tidak mau mengingat semuanya. Bukan kemauanku untuk terlahir seperti ini. Aku menerimanya, harus begitu untuk setidaknya melanjutkan hidup. Tapi, sesekali, menangis karenanya tidak apa, bukan? Tidak berarti aku akan terpuruk selamanya.

“Oh, anak panti, toh. Kesian banget. Sabar, yah,”

“Ah, jadi males main sama dia. Biasanya yang kayak begitu suka brutal, kan, sifatnya?”

“Datengin pas minta contekan aja, susah banget.”

Bagai sambaran-sambaran petir yang menghanguskan daratan, kilasan ingatan itu terus berganti, menggambarkan kejadian-kejadian paling menakutkan dalam hidupku. Kutarik napas sepanjang yang kubisa. Keringat dingin membanjiri tubuhku yang sudah menggigil. Ini menakutkan, sangat-sangat menyeramkan.

“Makanya gak usah sok kegatelan cari perhatian,”

Oh, tidak. Aku tidak mau mendengarkan lanjutannya. Tidak untuk yang kedua kalinya. “Berhenti,” aku berbisik sambil menutup telinga dengan kedua tanganku. Mendengarnya akan membawaku ke jurang terdalam, untuk kedua kalinya.

“Untung lu pinter, makanya kita temenin. Coba kalo ngga, kayak ada yang mau temenan sama lu aja,”

Aku terisak, “Berhenti.”

Tiap kejadian terus diputar, mengulang semua sakit yang kuterima. Tidak cukupkah dunia kejam pada alur hidupku. Haruskan mengulang untuk kedua kalinya?

Sudah cukup. Cukup. “CUKUP!”

Seketika, pergerakan waktu terhenti. Kuberanikan diri melihat ke sekeliling, aku berada di koridor sayap kanan lantai satu. Hujan turun cukup deras. Hilir mudik siswa memenuhi koridor diikuti bau petrichor yang menguar. Sesaat aku terdiam, menikmati suasananya hingga pandanganku terfokus pada seorang perempuan.

Ia berjalan lurus, dengan wajah tertunduk. Rambut hitamnya kusut, tampak berantakan. Pakaiannya lusuh, dipenuhi bercak putih sementara cangkang telur beserta isinya tumpah di bahu kiri. Tubuhnya tampak kaku dengan tangan terkepal. Orang-orang di sekitar memandanginya penuh ejekan, kasihan, dan tidak peduli.

Perempuan itu berhenti, satu langkah di depan seseorang. Tangannya melayang, menampar orang di depannya. Lantas mengangkat wajahnya. Aku terkesiap tatkala melihat lebam dan memar memenuhi wajahnya sementara senyum bagai seringai iblis menghias bibirnya.

“Itu…siapa?”

Dengan cepat, kerah perempuan itu ditarik naik. Masih memasang senyumnya dia berbisik, “Kita…temen, kan?”

Tubuh perempuan itu dilempar, menabrak tiang hingga jatuh mengenaskan. Orang-orang berteriak panik, sementara aku mengkerut, melangkah mundur. Aku tahu siapa perempuan itu. Yang penuh tepung, telur dan lebam. Yang bagai setan dengan seringai di bibirnya.

Itu aku. “Bukan. Itu bukan aku. Bukan aku yang iblis. Dia yang iblis. DIA!”

 

“SHARON!”

Aku terkesiap. Napasku pendek-pendek, tubuhku lengket dengan keringat, mataku memandang was-was. Dimana aku?

“Sharon,”

Suaranya lembut, bagai alunan lagu. Seorang perempuan cantik berdiri di dekatku, menatap khawatir. Siapa dia? “Menjauh,”

Aku menatap perempuan itu dingin. Sudah cukup topeng palsu yang digunakan untuk menghasutku. Sudah cukup tatapan permintaan berlabel pertemanan. Aku sudah muak. Teman itu memuakkan. Penuh kepura-puraan. Palsu.

Perempuan itu tersenyum, mengingatkanku pada sakura yang berguguran. Begitu tenang. “Ngga papa, Sharon. Aku cuman mau bersihin rambut kamu,”

“Berhenti,” bisikku sambil menatap tajam. Terakhir kali aku diperlakukan seperti ini, ada bahaya yang jauh lebih mengancam.

Perempuan itu diam ditempatnya. Menatapku dengan pandangan seteduh suasana terik di bawah lebatnya pohon, nyaman. “Teman itu memuakkan, yah?”

Aku diam. Terlalu malas untuk sekedar membenarkan perkataannya. “Dimanfaatin karena alasan pertemanan itu, ngga enak, yah?” alih-alih mengangguk, aku memilih memeluk lutut. “Kalo udah ngga bermanfaat, dibuang.”

Lagi-lagi, dadaku sesak. Aku dibuang oleh teman karena tidak lagi berguna. “Kalo kayak gitu, lebih baik ngga punya temen aja sekalian.” Aku diam. Tidak berteman dengan siapapun lebih baik dari pada dihianati, lagi.

“Tapi, Sharon, ngga semua orang kayak gitu,” aku mendengus, sangsi pada pernyataannya. Semua orang yang kukenal tampak seperti itu. “Kamu cuman belum nemuin seseorang yang ngga kayak gitu. Yang nerima kamu apa adanya.”

Lantas, jika seseorang seperti itu memang ada, seharusnya aku sudah menemukannya sekarang. “Teman yang ngga cuman nemenin hiburan. Tapi teman yang sayang sama kamu, nuntun kamu ke jalan kebaikan. Teman yang ngga akan ragu nolong kamu di akhirat.”

“Kamu rasis,” kutatap perempuan itu, nyalang. Dengan alasan apa pendapat itu dikesimpulkan? “Pergaulan kamu terbatas, dan aku yakin kamu ngga tau siapa aku atau bahkan tau mukaku. Karena itu kamu ngga nemuin orang-orang yang sayang kamu dengan tulus.”

“Sharon,” lagi, suara semerdu lagu itu memanggil namaku. “Kapan terakhir kali kamu kumpul sama orang-orang selain Gladys? Kapan terakhir kali kamu ibadah karena Allah? Kapan terakhir kali kamu nyebut nama Allah?”

Napasku menderu, sementara air menggenangi pelupuk mataku. Samar, terdengar langkah kaki mendekatiku, yang terduduk di atas kasur. “Sharon,” tangannya terulur, menyambutku masuk dalam pelukannya, “Ngga masalah buat nangis karena alur cerita hidup kamu. Tapi jangan berlarut-larut.” bisa kurasakan air mataku menetes, membasahi pundaknya yang tertutupi kerudung.

“Ngga masalah buat sakit hati karena dihianati. Tapi jangan mendendam.” Sesak di dadaku lenyap, sementara elusan di atas kepalaku memberi rasa nyaman. “Ngga masalah buat membatasi pergaulan, tapi lakukan di jalan kebaikan.”

Aku terisak, perlahan melingkarkan tangan di sekeliling pinggangnya. “Sharon, semua orang butuh teman untuk mendampingi. Seperti halnya Nabi dan para sahabatnya.”

Aku memeluk perempuan itu lebih erat disela isak tangis. Dekapannya menenangkan, membuatku merasa dalam pelukan ibu dan perlindungan ayah.

“Cari teman, Sharon. Ngga papa buat cari teman yang bermanfaat. Tapi bermanfaat untuk kebaikan kamu di jalan Allah, dan balas kebaikan teman kamu dengan terus berada di jalan Allah. Yang bersama-sama kalian akan masuk surga-Nya. Kalau kamu mau berubah, aku yakin, alur cerita hidup kamu juga bakal berubah. Insyaallah.”

 

[ZMardha] willyaaziza, Bogor, 3 Mei 2017

tahun pertama kelas 1 SMA, Pesantren Media

tugas Menulis Pemula

persahabatan pertemanan sahabat teman

Penulis: 
    author

    Posting Terkait