Apa yang Aku Lakukan Di Sini? (Puisi untuk Suriah)

2180 views

 

Warna sengsara melukis senja

Menoreh luka dalam hati yang duka

Menggetarkan syaraf dalam rasa sakit dan sengsara

 

Aku melihat di negeri sana, deru peluru dan darah

Menjadi peledak gelombang amarah

Memutus bahagia datangkan gundah

Bersama resah dan ribuan rasa bersalah

 

Dan apa yang aku lakukan di sini?

 

Di sana, aku dengar lagi ratusan muslim mati tak berharga

Bagaikan tikus atau hama yang tak berharga

Mati di tangan-tangan bengis dan sadis

Menjadi mayat di tangan penguasa yang dzalim

 

Dan apa yang aku lakukan di sini?

 

Saat aku tertidur menunggu waktu berbuka puasa

Saudaraku di sana sedang menangis, mempertanyakan kehidupan anak-anak mereka

Saat aku bertakbir menyambut hari raya lebaran

Mereka bertakbir menahan sakit di antara nyala semangat yang terkobar, lalu terpatahkan dengan lengkingan mencari pertolongan

Saat aku pergi ke dokter untuk meminta obat diare karena terlalu banyak makan

Mereka sedang berjuang menahan nyawa agar tetap melekat pada raga setelah air mereka diracuni oleh Basar Asad sang setan

Saat diriku terlelap dalam detak jarum jam berhentak pelan

Mereka sedang berjuang, merebut kembali kejayaan dan kemerdekaan, serta izzah ummat Islam yang telah terinjak, demi mencapai kemenangan hingga titik darah penghabisan

 

Dan apa yang aku lakukan di sini?

 

Temanggung, 10 Agustus 2013

 

[Hawari, santri angkatan kedua tingkat SMA di Pesantren Media]

Catatan : tulisan ini sebagai tugas selama liburan.

basar asad foreign poetry hawari konflik suriah perang pesantren media poetry puisi santri suriah syria war

Penulis: 
author
Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

Posting Terkait

  1. author
    dinda5 tahun agoBalas

    sangat menyentuh… dan inilah yang ku mampu

    • author
      Hawari (Penulis)4 tahun agoBalas

      Kita yang disini, jika tidak memungkinkan untuk membantu secara material, bisa cukup dengan doa, karena doa adalah senjata kaum muslimin. 🙂 Semoga bermanfaat.

Tinggalkan pesan