Rabu 12 Juni 2013 Pesantren Media kembali mengadakan Diskusi Aktual, setelah minggu sebelumnya tidak mengadakan kegiatan rutin tersebut karena alasan tertentu. Seperti biasa diskusi ini diadakan di Pesantren Media, pada pukul 11:00 dengan diikuti oleh seluruh santri Pesantren media. Diskusi kali ini mengangkat tema yang berjudul “APA YANG AKAN TERJADI JIKA HARGA BBM NAIK DAN DIBATASI PEMAKAIANNYA”, wow, sebuah judul yang cukup panjang.

Tema tersebut diangkat tentu karena berita tersebut dapat dikatakan sebagai berita teraktual minggu ini. Akhir-akhir ini, masyarakat sedang dihebohkan oleh media massa yang memberitakan bahwa BBM akan naik lagi. Tidak hanya naik, namun jika diadakan pembatasan pemakain. Tentu saja hal tersebut menuai kontraversi di masyarakat, oleh karena itu Pesantren Media ingin membahas masalah ini.

Diskusi Pun dimulai. Yang menjadi moderator kali ini adalah Abdullah Musa Leboe, salah satu santri kalong yang juga merupakan putra dari Ustadz Umar Abdullah, Direktur Pesantren Media. Ini merupakan pertama kalinya Abdullah menjadi moderator dalam Diskusi Aktual yang rutin dilakukan Pesantren media. Dan yang menjadi notulen adalah saya sendiri, Ahmad Khoirul Anam.

Karena semua santri telah memahami dengan rencana kenaikan BBM ini, maka Abdullah pun lngsung membuka diskusi dengan sesi pertanyaan.

Semua peserta diskusi pun mengangkat tangannya, menandakan ada sebuah pertanyaan yang perlu didiskusikan. Tak ada satu pun santri yang tidak bertanya. Kemudian satu-persatu seluruh santri membacakan pertanyaannya masing-masing.

Yang pertama adalah pertanyaan dari Ica. “Siapa yang mendapatkan keuntungaan jika BBM dinaikkan?”

Pertanyaan dari Putri. “Apakah ada dampak positif dari kenaikan BBM?”

Pertanyaan Ira. “Apakah dalam sistem ekonomi islam ada subsidi? Jika ada bagaimana pengelolaannya?”

Pertanyaan dari Farid.Apakah ada kemungkinan pemerintah membatalkan pembatasan dan kenaikan BBM?”

Pertanyaan dari Hawari. “Bagaimana dengan rakyat Pas-pasan yang sebenarnya bisa dibilang nggak mampu, dapat BLSM nggak?”

Pertanyaan Musa. “Apa hukuman dalam Islam bagi yang menetapkan kenaikkan dan pembatasan BBM?”

Lalu pertanyaan dari Wigati. “Apa dampak negatif dari kenaikan BBM?”

Kemudian pertanyaan dari saya sendiri, Ahmad Khoirul Aam. “Apa kira-kira tindakan yang akan dilakukan warga nantinya saat harga BBM naik?”

Pertanyaan dari Rani. “Bagaimana dengan orang pas-pasan yang tidak mau membeli pertamax, sedangkan tempat kerjanya jauh?”

Pertanyaan selanjutnya dibacakan oleh Ilham. “Apa alasan pemerintah membatasi pemakaian BBM?”

Masih membacakan pertanyaan, kali ini dari Mayla. “Apakah pemerintah sudah memikirkan masyarakat yang nantinya akan banyak yang nganggur jika BBM dinaikkan?”

Lalu pertanyaan dari Holifah. “Apakah BLSM bisa menjamin masyarakat yang kurang mampu terbantu?”

Pertanyaan dari Novia. “Apakah dengan kenaikkan harga BBM ini menyebabkan Kemiskinan semakin Melonjak?”

Dan pertanyaan dari Fathimah. “Apakah pemerintah sudah mempersiapkan antisipasi jika rakyat demo?”

Pertanyaan Siti. “Apkah biaya pendidikan juga akan naik?”

Dan yang terakhir adalah pertanyaan dari Via. “Apa itu subsidi?”

Sesi membacakan pertanyaan pun selesai. Diskusi pun dilanjutkan dengan sesi mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang tadi telah dibacakan. Pertanyaan yang lebih dahulu akan dijawab adalah pertanyaan yang dianggap lebih mudah dan sesuai dengan alur diskusi. Maka dipilihlah pertanyaan dari Via yang pertama didiskusikan, “Apa itu subsidi?”

Salah satu santri Ikhwan pun mengangkat tangan dan memberikan sebuah jawaban, yaitu Farid. “Subsidi adalah bantuan keuangan  yang dibayarkan kepada suatu bisnis atau sektor ekonomi, kalau dari pemerintah berarti subsidi pemerintah.” Begitulah menurut jawabannya.

Tidak ada peserta lain yang menambahkan, dan tidak ada pula yang menyanggah, berarti seluruh perserta diskusi telah setuju dengan jawaban dari Farid. Dan dilanjutkan dengan pertanyaan kedua yang akan dibahas, yaitu “Apa alasan pemerintah membatasi pemakaian BBM?” Yang merupakan pertanyaan dari Ilham.

Untuk pertanyaan tersebut, Abdullah sebagai seorang moderator pun menunjuk Musa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Karena menurut pemerintah, subsidi BBM kemarin yang menikmati 70 atau 80 persen adalah orang yang penghasilannya menengah ke atas.” Begitulah jawaban yang disampaikan Musa.

Selain Musa, salah satu Akhwat juga ada yang memberikan jawaban. “Karena penghematan uang negara yang mencapai 30 triliun.” Itu merupakan jawaban dari Putri.

Tidak ada yang mau menambahkan lagi. Hanya dua jawaban tadi. Diskusi pun dilanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya, pertanyaan dari Farid, “Apakah ada kemungkinan pemerintah membatalkan pembatasan dan kenaikan BBM?”

Salah satu santri Akhwat yaitu Mayla pun memberikan jawaban. “Bisa, karena mungkin pemerintah nanti akan takut dengan aksi demo besar-besaran yang kemungkinan akan dilakukan oleh beberapa kalangan masyarakat.”

Satu jawaban sudah dirasa cukup, dan dilanjutkan dengan perrtanyaan selanjutnya, “Apakah ada dampak positif dari kenaikkan BBM?”

Tidak ada yang terlihat mengangkat tangannya, maka pertanyaan pun langsung dijawab oleh moderator. “Dampak positif dialami oleh penjual BBMnya sendiri. Ah nggak tau deh.” Jawaban dari Abdullah dengan sedikt ragu, kemudian pertanyaan tersebut ditawarkan kembali kepada peserta lain.

Fathimah mengangkat tangan. “Untuk pemerintah ada dampak positifnya, karena subsidinya kan dihilangkan, jadi masyarakatnya membayarnya full, sehingga kas negara tidak berkurang, malah bertambah.”

Kemudian dilanjutkan lagi dengan pertanyaan selanjutnya. “Siapa yang akan diuntungkan jika BBM dinaikkan?”

Hawari menjawab, “pemerintah!”

Dan yang lain tampak setuju dengan jawaban singkat tersebut.

Dan untuk mempersingkat waktu, diskusi langsung dilanjutkan lagi menuju pertanyaan selanjutnya.“Apa dampak negatif dari kenaikkan BBM?”

Faisal menjawab pertanyaan tersebut, “bisa membuat orang marah-marah.”

Kemudian Putri juga memberikan jawabannya, “harga-harga bahan pokok akan naik karena biaya biaya transportasi naik. Dan biaya hidup akan naik, seperti sandang, pangan, papan.”

Ilham juga mengeluarkan pendapatnya, “anak yang sekolahnya jauh banyak yang absen, karena ongkos ke sekolah akan mahal, dan banyak pekerja yang menganggur.”

Dirasa cukup dengan jawaban tersebut, diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya. “Apakah dengan kenaikkan harga BBM ini menyebabkan kemiskinan semakin melonjak?”

“Dengan adanya kenaikkan BBM, maka harga kebutuhan pokok pun jelas akan naik, sementara gaji buruh dan pegawai belu, tentu naik, sehingga akan terjadi kemiskinan  bertambah.” Itu merupakan jawaban yang dilontarkan oleh Mayla.

Semua setuju dengan jawaban tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya. “Apakah BLSM dapat menjamin masyarakat yang kurang mampu terjamin?”

“Kemungkinan enggak bisa, karena harga kebutuhan poko juga akan naik.” Menurut Novia, salah satu santri akhwat Pesantren Media.

Kemudian pertanyaan yang akan dibahas selanjutnya adalah, “apakah dengan kenaikkan BBM ini, harga pendidikan juga akan naik?”

Faisal langsung menyambar pertanyaan tersebut, “tentu saja, PTS (perguruan Tinggi Swasta)  juga harganya akan mahal banget.” Ujarnya singkat.

Kemudian moderator menunjuk Hawari untuk menjawab pertanyaan tersebut, Hawari pun mengangkat bicara. “kayaknya naik, soalnya sekolah kan butuh buku-buku, nah biaya buku juga akan naik, sementara seragam juga akan naik, dan yang pasti biaya angkot ke sekolah juga akan naik.”

Lanjut ke pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan dari Hawari, “bagaimana dengan rakyat pas-pasan yang sebenarnya juga bisa dibbilang nggak mampu, apakah tetap dapat BLSM?”

Mayla mengangkat tangan dan menjawab. “Tidak, karena setelah di survei ke supir angkot hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan BLSM.”

Hanya satu jawaban dari Mayla tersebut, tidak ada lagi yang memberikan komentarnya. Akhirnya diskusi dilanjutkan lagi ke pertanyaan selanjutnya. “Apa tindakan yang akan dilakukan warga denga adanya kenaikan BBM ini?”

Ira mengangkat tangan, “mungkin akan ada banyak yang melakukan demo, tapi ada juga yang menerima keputusan kenaikkan BBM.”

Lagi-lagi hanya satu yang menjawab. Namun diskusi tetap berlanjut, pertanyaan selanjutnya, “apakah pemerintah sudah melakukan antisipasi jika rakyatnya ada yang berdemo?” Pertanyaan dari Fathimah.

Musa menjawab singkat, “belom.”

Mungkin karena pertanyaannya hanya butuh jawaban sudah atau belum, maka pertanyaan tersebut dianggap sudah terjawab. Diskusi pun dilanjutkan kembali menuju pertanyaan berikutnya. “Apakah pemerintah sudah memikirkan masyarakat yang nantinya banyak yang menganggur?”

Moderator menawarkan kepada peserta diskusi. Dan yang mengangkat tangan adalah Fathimah, “Pemerintah itu biasanya tidak peduli.”

Dan ternyata masih ada yang mau memberikan jawaban, yaitu Hawari. “Sebelum terjadi kenaikkan BBM saja sudah banyak yang pengangguran dan itu tidak dipikirkan oleh pemerintah, apalagi dengan pengangguran-pengangguran yang akan muncul setelah kenaikkan BBM.” Jawaban yang masuk akal.

Lalu dilanjutkan lagi dengan pertanyaan selanjutnya, “bagaimana dengan orang yang penghasilannya pas-pasan dan tidak mau membeli pertamax, padahal tempat kerjanya jauh?”

Ada yang menjawab, “pakai sepeda, angkutan umum, kereta, jalan kaki, numpang orang.” Macam-macam jawaban dari beberapa santri.

Kak Farid menjawab. “Rumahnya pindah agar dekat dengan kantor atau tempat kerja.”

Nampaknya tidak ada yang menjawab dengan sangat tepat, tapi tak apalah. Kita lanjutkan diskusi dengan menjawab pertanyaan selanjutnya dari Musa. “Apa hukuman dalam Islam bagi yang menaikkan harga BBM?”

Karena pertanyaan tersebut membutuhkan pemahaman Islam , maka tidak ada yang berani mengangkat tangan, dan pertanyaan tersebut pun disimpan untuk dijawab oleh Ustadz Umar di akhri nanti.

Kemudian lanjut ke pertanyaan selanjutnya, “Apakah dalam sistem Ekonomi Islam ada subsidi? jika ada bagaimana car apengelolaannya?”

Tidak ada yang mau menjawab, maka pertanyaan ini juga disimpan untuk dijawab Ustadz Umar di akhir.

Dan akhirnya, semua pertanyaan pun sudah usai di bahas dan didiskusikan. Walaupun masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Maka sebelum mengakhiri diskusi, Ustadz Umar pun menyampaikan sedikit masalah yang berkaitan dengan diskusi ini, sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Menurut Ustadz Umar, subsidi bahan bakar dalam Islam itu tidak ada. Tapi subsidi yang lain ada, subsidi bahan bakar tidak ada dalam Islam karena bahan bakarnya tidak dijadikan komoditas (barang yang diperjual-belikan), karena itu adalah milik rakyat, negara hanya mewakili rakyat mengambil minyak, lalu di ekspolarsi, di ekploitasi dan dijadikan barang-barang bermanfaat, dan pada akhirnya untuk dikembalikan ke rakyat.

Ustadz Umar melanjutkan, jika negara dalam keadaan kaya, seluruhnya harus diberikan kepada rakyat dengan cuma-cuma alias gratis. Namun jika negara tidak dalam keadaan kaya, maka negara boleh mengambil atau meminta uang ke rakyat sekedar untuk mengganti biaya exploitasi, exporasi dan distribusi, itu pun tidak besar.

Maka, sebenarnya subsidi BBM itu tidak perlu, karena ini adalah milik rakyat, negara yang mengambilkan untuk rakyatnya, jika negara kaya maka diberikan gratis kepada rakyat, namun jika negara miskin ditarik dari warga sekedar untuk mengganti ongkos, explorasi, exploitasi dan dostribusi.

Dan dalam Islam, ada subsidi kepada seluruh kaum muslimin. Yang hartanya diambil dari berbagai macam sumber, seperti dari rampasan perang dari musuh yang kalah. Harta tersebut dibagikan kepada seluruh kaum muslimin.

Dulu pada masa Pemerintahan Umar bin Khattab, seluruh kaum muslimin mendapatkan harta yang dibagikan negara kepada seluruh, bahkan hingga bayi-bati pun mendapat bagian dari harta tersebut.

Sehingga di dalam Islam, masyarakat akan hidup makmur, karena warga memberikan santunan kepada seluruh masyarakat. Lalu bagi penguasa yang menyengsarakan rakyatnya dengan kenaikkan BBM, maka itu masuk ke dalam kategori Zhalim. Sehingga penguasa yang seperti itu harus diluruskan.

Begitulah apa yang telah disampaikan Ustadz Umar yang saya tulis secara singkat.

Diskusi aktual edisi 12 Juni 2013 pun berakhir. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh.

[Ahmad Khoirul Anam dan Hawari, santri angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai laporan hasil Diskusi Aktual, dan bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media