Apa Salahnya Memaafkan?

656 views

Hidup bermasarakat pasti akan selalu diikuti dengan berbagai kejadian, jangankan dalam masyarakat dalam keluarga pun seperti itu. Karena setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Tapi di balik semua itu kita bisa mendapat banyak pelajaran untuk saling  menghargai, tidak sungkan meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan ketika disakiti.

Kalau saling menghargai masih dengan mudah kita lakukan. Meminta maafpun begitu. Tapi kalau memaafkan, rasa-rasanya sulit untuk dilakukan. Apalagi kalau kesalahan yang diperbuat itu sangat menyakitkan hati. Tapi apa salahnya? Setiap manusia pasti punya kesalahan, pernah menyakiti dan tersakiti. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Lalu apa salahnya memaafkan?

Ketika kita sulit memaafkan orang lain, kita harus ingat kalau kitapun pasti punya kesalahan kepada orang lain. Kemudian kita bayangkan jika kita diposisi yang menyakiti kemudian tidak dimaafkan oleh orang yang kita sakiti. Bagaimana rasanya? Jadi  apa salahnya kita memaafkan, Allah saja maha pemaaf, kenapa manusia tidak?

Memaafkan itu tidak akan merugikan kita, malah kita akan mulia karenanya. Seperti disebutkan dalam hadits:

“Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah seseorang yang memaafkan kezhaliman orang lain kecuali Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan ia tidak akan dirugikan.”

(HR Ahmad No – 6908)

Lagi pula bukan ciri seorang muslim yang baik kalau kita masih menyimpan kebencian dan dendam pada orang lain. Buat apa? Tidak aka nada gunanya. Semua itu hanya akan membuat hati kita kotor karena sifat mazmumah itu, lalu kita dibuat semakin sakit dan terluka karena perbuatan sendiri. Bahkan akhirnya akan berbalik jadi berdosa.

“Siapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi. Dan siapa yang tidak mau memaafkan, maka ia tidak akan dimaafkan (diampuni).”
(HR Ahmad No – 18447)

Tahu nggak kisah Abu Bakar As-Shiddiq yang bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya?

Beliau seperti itu karena Misthah bin Atsatsah ikut menyebarkan berita bohong, memutar balikan fakta bahwa Aisyah ra sengaja bersembunyi agar tertinggal oleh Rasullah saw dan menunggu Syafwan ra untuk berhubungan mesra antara keduanya. Dari  isu itu akhirnya di dengar oleh Rasulullah saw.

Akan tetapi Allah melarang sikap Abu Bakar itu, hingga turunlah ayat ke-22 dari surah An-Nur.

Ÿwur È@s?ù’tƒ (#qä9’ré& È@ôÒxÿø9$# óOä3ZÏB Ïpyè¡¡9$#ur br& (#þqè?÷sム’Í<‘ré& 4’n1öà)ø9$# tûüÅ3»|¡yJø9$#ur šúï̍Éf»ygßJø9$#ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# ( (#qàÿ÷èu‹ø9ur (#þqßsxÿóÁu‹ø9ur 3 Ÿwr& tbq™7ÏtéB br& tÏÿøótƒ ª!$# óOä3s9 3 ª!$#ur ֑qàÿxî îLìÏm§‘ ÇËËÈ

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan mem beri (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berla pang dada. Apakah ka mu tidak ingin agar Allah meng ampunimu? Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

Ayat ini mengajarkan kita agar memaafkan orang yang pernah menyakiti kita dan melupakan dendam yang membakar hati kita.

Yuk, kita saling maaf-memaafkan. Kita sambung tali persaudaraan yang hampir putus. Islam akan kuat ketika ummatnya saling bahu membahu, saling menghargai satu sama lain.

tûïÏ%©!$# tbqàÒà)Ztƒ y‰ôgtã «!$# .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÉ)»sWŠÏB tbqãèsÜø)tƒur !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcr߉šøÿãƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# 4 šÍ´¯»s9’ré& ãNèd šcrçŽÅ£»y‚ø9$# ÇËÐÈ

(yaitu) orang-orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.

Hidup bermasyarakat pasti akan selalu diikuti dengan berbagai kejadian, jangankan dalam masyarakat dalam keluarga pun seperti itu. Karena setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Tapi di balik semua itu kita bisa mendapat banyak pelajaran untuk saling  menghargai, tidak sungkan meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan ketika disakiti.

Kalau saling menghargai masih dengan mudah kita lakukan. Meminta maafpun begitu. Tapi kalau memaafkan, rasa-rasanya sulit untuk dilakukan. Apalagi kalau kesalahan yang diperbuat itu sangat menyakitkan hati. Tapi apa salahnya? Setiap manusia pasti punya kesalahan, pernah menyakiti dan tersakiti. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Lalu apa salahnya memaafkan?

Ketika kita sulit memaafkan orang lain, kita harus ingat kalau kitapun pasti punya kesalahan kepada orang lain. Kemudian kita bayangkan jika kita diposisi yang menyakiti kemudian tidak dimaafkan oleh orang yang kita sakiti. Bagaimana rasanya? Jadi  apa salahnya kita memaafkan, Allah saja maha pemaaf, kenapa manusia tidak?

Memaafkan itu tidak akan merugikan kita, malah kita akan mulia karenanya. Seperti disebutkan dalam hadits:

“Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah seseorang yang memaafkan kezhaliman orang lain kecuali Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan ia tidak akan dirugikan.”

(HR Ahmad No – 6908)

 

Lagi pula bukan ciri seorang muslim yang baik kalau kita masih menyimpan kebencian dan dendam pada orang lain. Buat apa? Tidak aka nada gunanya. Semua itu hanya akan membuat hati kita kotor karena sifat mazmumah itu, lalu kita dibuat semakin sakit dan terluka karena perbuatan sendiri. Bahkan akhirnya akan berbalik jadi berdosa.
“Siapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi. Dan siapa yang tidak mau memaafkan, maka ia tidak akan dimaafkan (diampuni).”
(HR Ahmad No – 18447)

 

Tahu nggak kisah Abu Bakar As-Shiddiq yang bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya?

 

Beliau seperti itu karena Misthah bin Atsatsah ikut menyebarkan berita bohong, memutar balikan fakta bahwa Aisyah ra sengaja bersembunyi agar tertinggal oleh Rasullah saw dan menunggu Syafwan ra untuk berhubungan mesra antara keduanya. Dari  isu itu akhirnya di dengar oleh Rasulullah saw.

 

Akan tetapi Allah melarang sikap Abu Bakar itu, hingga turunlah ayat ke-22 dari surah An-Nur.

 

Ÿwur È@s?ù’tƒ (#qä9’ré& È@ôÒxÿø9$# óOä3ZÏB Ïpyè¡¡9$#ur br& (#þqè?÷sム’Í<‘ré& 4’n1öà)ø9$# tûüÅ3»|¡yJø9$#ur šúï̍Éf»ygßJø9$#ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# ( (#qàÿ÷èu‹ø9ur (#þqßsxÿóÁu‹ø9ur 3 Ÿwr& tbq™7ÏtéB br& tÏÿøótƒ ª!$# óOä3s9 3 ª!$#ur ֑qàÿxî îLìÏm§‘ ÇËËÈ

 

 

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan mem beri (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berla pang dada. Apakah ka mu tidak ingin agar Allah meng ampunimu? Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

 

Ayat ini mengajarkan kita agar memaafkan orang yang pernah menyakiti kita dan melupakan dendam yang membakar hati kita.

 

Yuk, kita saling maaf-memaafkan. Kita sambung tali persaudaraan yang hampir putus. Islam akan kuat ketika ummatnya saling bahu membahu, saling menghargai satu sama lain.

 

tûïÏ%©!$# tbqàÒà)Ztƒ y‰ôgtã «!$# .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÉ)»sWŠÏB tbqãèsÜø)tƒur !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcr߉šøÿãƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# 4 šÍ´¯»s9’ré& ãNèd šcrçŽÅ£»y‚ø9$# ÇËÐÈ

(yaitu) orang-orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.

 

 

Hidup bermasyarakat pasti akan selalu diikuti dengan berbagai kejadian, jangankan dalam masyarakat dalam keluarga pun seperti itu. Karena setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Tapi di balik semua itu kita bisa mendapat banyak pelajaran untuk saling  menghargai, tidak sungkan meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan memaafkan ketika disakiti.

 

Kalau saling menghargai masih dengan mudah kita lakukan. Meminta maafpun begitu. Tapi kalau memaafkan, rasa-rasanya sulit untuk dilakukan. Apalagi kalau kesalahan yang diperbuat itu sangat menyakitkan hati. Tapi apa salahnya? Setiap manusia pasti punya kesalahan, pernah menyakiti dan tersakiti. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Lalu apa salahnya memaafkan?

 

Ketika kita sulit memaafkan orang lain, kita harus ingat kalau kitapun pasti punya kesalahan kepada orang lain. Kemudian kita bayangkan jika kita diposisi yang menyakiti kemudian tidak dimaafkan oleh orang yang kita sakiti. Bagaimana rasanya? Jadi  apa salahnya kita memaafkan, Allah saja maha pemaaf, kenapa manusia tidak?

 

Memaafkan itu tidak akan merugikan kita, malah kita akan mulia karenanya. Seperti disebutkan dalam hadits:

 

“Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah seseorang yang memaafkan kezhaliman orang lain kecuali Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan ia tidak akan dirugikan.”
(HR Ahmad No – 6908)

 

Lagi pula bukan ciri seorang muslim yang baik kalau kita masih menyimpan kebencian dan dendam pada orang lain. Buat apa? Tidak aka nada gunanya. Semua itu hanya akan membuat hati kita kotor karena sifat mazmumah itu, lalu kita dibuat semakin sakit dan terluka karena perbuatan sendiri. Bahkan akhirnya akan berbalik jadi berdosa.


“Siapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi. Dan siapa yang tidak mau memaafkan, maka ia tidak akan dimaafkan (diampuni).”
(HR Ahmad No – 18447)

 

Tahu nggak kisah Abu Bakar As-Shiddiq yang bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya?

 

Beliau seperti itu karena Misthah bin Atsatsah ikut menyebarkan berita bohong, memutar balikan fakta bahwa Aisyah ra sengaja bersembunyi agar tertinggal oleh Rasullah saw dan menunggu Syafwan ra untuk berhubungan mesra antara keduanya. Dari  isu itu akhirnya di dengar oleh Rasulullah saw.

 

Akan tetapi Allah melarang sikap Abu Bakar itu, hingga turunlah ayat ke-22 dari surah An-Nur.

 

ŸwurÈ@s?ùtƒ(#qä9ré&È@ôÒxÿø9$#óOä3ZÏBÏpyè¡¡9$#urbr&(#þqè?÷sヒÍ<ré&4’n1öà)ø9$#tûüÅ3»|¡yJø9$#uršúï̍Éf»ygßJø9$#ur’ÎûÈ@‹Î6y™«!$#((#qàÿ÷èu‹ø9ur(#þqßsxÿóÁu‹ø9ur3Ÿwr&tbq™7ÏtéBbr&tÏÿøótƒª!$#óOä3s93ª!$#ur֑qàÿxîîLìÏm§‘ÇËËÈ

 

 

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan mem beri (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berla pang dada. Apakah ka mu tidak ingin agar Allah meng ampunimu? Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

 

Ayat ini mengajarkan kita agar memaafkan orang yang pernah menyakiti kita dan melupakan dendam yang membakar hati kita.

 

Yuk, kita saling maaf-memaafkan. Kita sambung tali persaudaraan yang hampir putus. Islam akan kuat ketika ummatnya saling bahu membahu, saling menghargai satu sama lain.

 

tûïÏ%©!$#tbqàÒà)Ztƒy‰ôgtã«!$#.`ÏBω÷èt/¾ÏmÉ)»sWŠÏBtbqãèsÜø)tƒur!$tBttBr&ª!$#ÿ¾ÏmÎ/br&Ÿ@|¹qペcr߉šøÿãƒur’ÎûÇÚö‘F{$#4šÍ´¯»s9ré&ãNèdšcrçŽÅ£»y‚ø9$#ÇËÐÈ

(yaitu) orang-orang yang melanggar Perjanjian Allah sesudah Perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.

[Ilhan Raudhatul Jannah, santriwati angkatan ke-1, jenjang SMA, Pesantren Media]

jabat tangan maaf memaafkan

Penulis: 
author
Ilham Raudhatul Jannah, biasa disapa Neng Ilham | Santriwati Pesantren MEDIA angkatanke-1, jenjang SMA | Alumni tahun 2014, asal Menes, Banten | Twitter: @senandungrindu1

Posting Terkait