Aku Tak Menyangka #2

200 views

Aku jadi merasa terkekang. Papa juga jadi sering marah denganku karna masalah sepele, seolah aku itu harus perfect. Sedangkan aku tidak bisa terus seperti itu” ceritaku sambil berkaca-kaca

“ aku berharap papa bisa berubah lagi seperti dulu” harapku. Sabar ya nak ibu tahu kok papa kamu itu sebenernya tidak seperti itu, mungkin papa kamu belum bisa menerima peningalan kakak kamu. Ibu yakin pasti suatu hari nanti kamu akan dicari oleh papa kamu” ucap ibu itu menghibur. “sekarang kamu mandi dan ganti bajumu. Ibu akan menyiapkan tempat tidur untukmu”. Aku segera mandi dan ganti baju.

OoooOoO

 

Sudah berbulan-bulan aku bersama ibu itu aku sudah merasa nyaman tinggal bersamanya dan yang lebih aneh aku tidak pernah tau siapa nama ibu itu, dan aku selalu lupa jika ingin menanyakan nama ibu itu, walhasil aku jadi tidak tahu siapa nama ibu itu sampai saat ini .

rasanya ibu itu sudah seperti ibuku sendiri. Dan banyak cerita dari ibu itu tentang papaku. Aku heran kenapa sering sekali ibu itu menceritakan tentang papa, entahlah. Mungkin dia senang dengan papaku. Dan aku sebagai anak hanya bangga karna ada seorang ibu yang senang dengan kebaikan papa, walaupun papa sudah mengusirku dari rumah. Aku hanya bisa menunggu kapan papa akan mencari dan menjemputku di sini.

Dan aku juga selalu menceritakan banyak hal kepadanya, dan beliau juga adalah pendengar yang baik dan setia. Beliau tidak pernah marah jika aku berbuat kesalahan, beliau adalah orang yang sabar.

Setelah aku bercerita banyak hal kepadanya, suara hp terdengar jelas dari arah kamarnya beliau,si ibu itu langsung  ke kamar meninggalkan aku sendiri di ruang tengah “Gimana udah dapat waktu yang pas belum?” tanya seseorang dari seberang telepon. Aku mendegar dari luar kamar, suara telepon itu di speaker, mungkin kalo tidak di speaker suarnya kurang jelas. Tapi tidak papa aku jadi bisa mendengarnya lebih jelas. “belum, aku tidak tega jika aku membunuh anak itu,lagi pula aku sudah terlanjur sayang dengan dia. Maafkan aku. Tapi tenang saja aku akan cari cara agar aku bisa langsung membunuhnya tanpa membunuh anaknya” ucap ibu itu dengan semangat. Ia akan membunuh siapa?  aku jadi makin penasaran, apakah dia orang jahat? atau dia pembunuh?

Krieek

Pintu itu terbuka “haaa..i” sapa aku yang masih didepan pintu kamarnya “sedang apa kamu di situ nak?” wajah ibu itu memerah.  “apakah kamu mendengar pecakapan ku di dalam kamar?” ibu itu mulai curiga kepadaku “sedang…hmmm sedaang” kataku gugup, sambil melihat  ke sekitar “aku lagi liatin ini, ii..i..ini foto, ini foto siapa? Bagus banget” puji ku, sebenernya  fotonya biasa saja tidak terlalu bagsus. “oh itu, itu foto adik ibu nak kenapa?”  aku terdiam sejenak memerhatikan wanita yang didalam foto itu “sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi diamana ya?.” Pikirku “ada apa?” tanya ibu itu. “tidak bu, tidak papa” jawabku sambil menggeleng cepat.

Aku dengan cepat kembali ke sofa dan melanjutkan acara TV yang barusan, sedangkan ibu itu masih berdiri di depang pintu dengan tatapan kosong. “bu..bu” panggilku membuyarkan lamunannya. “i..iya kenapa?” tanya ibu itu. Aku hany menggeleng tipis, beliau segera kembali ke kamardan menutup pintu dengan kencang lalu mengucinya, ada apa dengan ibu itu? Dia terlihat aneh.

OoooOoO

Terkadang papa merasa bersalah kepada Lee, tapi papa bingung harus mencari kemana. Mungkin papa harus menelpon polisi agar polisi  bisa membantu mencari Lee  “pa, sudahlah tidak usah dicari anak seperti itu, tidak penting. Mencari anak seperti dia sama saja membuang waktu. SIA-SIA PA!” mama menekankan kata sia-sia “tapi ma itu anak kita, kita tidak bisa berdiam diri seperti ini, kita harus mencari kemanapu.  Papa merasa sangat bersalah kepadanya” sambil menutup laptop dan beranjak pergi ke jendela, sambil melihat indahnya malam, lampu-lampu yang berejejer, serta gedung-gedung tinggi.

“tapi pa dia sudah membuat kesalah, dia telah memukul, menendang dan yang lebih parahnya dia menghajarnya, dia itu anak bos pa, bukan anak orang biasa. Apa itu bukan kesalahan? Mau taro dimana keluarga kita pa?” bentak mama, papa hanya menatap keluar jendela “lagi pula ma, papa kan sudah bertanggung jawab. Jadi apa salahnya papa membawa dia kembali ke rumah, Lee itu belum cukup dewasa untuk pergi jauh sendiri, dia adalah seorang wanita, dia tidak boleh pergi terlalu jauh ma” kata papa yang tadi melihat keluar jendela sekarang ganti menatap mata mama dengan tatapan memohon. Waktu itu papa menyuruh Lee pergi. Karna emosi papa yang tidak tertahan. Papa tidak peduli siapa itu Lee, mau dia masih kecil, belum dewasa, yang penting Lee harus pergi dari rumah “terserah papa lah, mama tidak peduli. Mama capek” dulu mama terlihat begitu sayang kepada Lee, tapi kenapa sekarang mama jadi berubah. Bahkan mama tidak ingin ada sosok Lee di rumahnya.

Sudah semakin malam papa belum juga bisa tidur, matanya masih melek, masih memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa bertemu Lee.

bersambung…

[Daffa Azzahra, Kelas 2 SMP, Pesantren Media]

Penulis: 
    author
    Daffa Azzahra | Santriwati jenjang SMP, kelas 2 | Asal Cikarang, Jawa Barat

    Posting Terkait