Loading

Kemarin, 27 Desember 2013. Aku dan teman-teman pergi berkunjung kerumah salah satu guru Pesantren Media (Ustadz Munawwir). Kami berangkat dari pesantren sore, sekitar jam empat lewat gitu. Perjalanannya cukup jauh dan melelahkan. Untungnya, ketika dirumah Ustadz Munawwir rasa lelah itu perlahan-lahan dapat hilang karena senang.

 

Senang? Ya, lelah itu dapat digantikan dengan rasa senang. Senang ketika melihat anak-anak Ustadz munawwir yang bertingkah, lucu sekali. Senang ketika mulai memotong makanan yang dibawa. Senang ketika melihat ikan yang sudah dipancing Ustadz dan beberapa orang lainnya.

 

Kamu tahu apa yang pertama ketika aku melihat ikan yang telah di pancing? aku teringat akan papa. Karena dulu sebelum masuk ke Pesantren Media, aku sering sekali pergi memancing bersama papa dan keluarga. Hampir setiap hari minggu kami pergi memancing. Tidak ada minggu yang terlewat, kecuali lagi sakit atau lagi ada keperluan penting.

 

Dikeluargaku, aku dan papa lah yang sangat suka memancing. Biasanya, sebelum memancing kami pergi mencari keperluan keperluan untuk memancing. Seperti tali pancing, kail pancing, dan mencari sendiri umpan pancingnya. Tapi, kalau gak sempat nyari umpan pancing bisanya kami memilih untuk membelinnya, biasanya umpan yang dibeli adalah cacing dan jangkrik hidup.

 

Nah, kalau semua perlengkapan dirasa lengkap barulah kami berangkat membeli nasi bungkus di rumah makan padang untuk makan siang. Setelah itu barulah kami menuju tempat tujuan sekitar jam delapan atau jam sembilan pagi.

 

Tapi, kalau lagi pengen ke tempat yang ekstrim, kami berangkat sesudah sholat subuh dan perlengkapannya disiapkan sehari sebelum berangkat.

 

Papa tidak pernah membawaku ketempat Pemancingan, aku selalu dibawa ke alam bebas. Biasanya perjalanan menuju tempat pacing 1 s/d  2 jam. Karena jauh itulah hamper setiap minggu aku dapat meliat hewan-hewan yang jarang di pelihara.

 

Papa pernah membawaku memancing ke muara, sungai, anak sungai, danau dan rawa-rawa. Lucu memang, rawa-rawa di jadikan tempat pancing. Tapi jangan salah, di rawa-rawa itu biasanya ikannya besar-besar. Dan yang dipancing di rawa-rawa itu ikan lele, toman, belut dan ikan-ikan sejenisnya.

 

Sakin sukanya memancing, aku dan papa pernah memancing saat lebaran Idul Adha. Tepatnya setelah berkunjung kerumah keluarga. Kami sengaja nggak ikut makan-makan biar bisa langsung pulang. Habis maaf-maafan kami pulang untuk mengganti baju dan kemudian tancap gas ketempat pancing.

Pulang-pulang aku dan papa dimarahi ibu karena pulang dengan baju yang kotor dan lumpur disekitar tubuh.

“Ini bapak sama anaknya sama aja.” Ujar ibu sambil ngeliatin aku dari atas sampai bawah.

Aku hanya tersenyum sambil menyodorkan hasil pancingan. Sedangkan papa lasung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

Selain itu, kami pernah memancing di rawa-rawa. Awalnya sih iseng-iseng aja, masukin pancingan ke lubang yang ada di rawa. Eh, taunya ada nyamperin. Perlawanannya cukup kuat tali pancing yang dipakai sampai putus.

Karena penasaran, kami memutuskan untuk pulang mengambil peralatan tempur (peralatan pancing). Dan kemudian kembali ke rawa itu dan memancing ditenpat yang sama dengan sebelumnya. Dan ternyata, lubang itu isinya belut. Belut yang kami dapat dari lubang itu gedeeee banget. Ukuran belutnya hampir sama dengan tangan papa. Puas banget makannya, daging belutnya banyak dan itu kali pertama aku suka makan belut.

Pengen mancing lagi, rasanya sudah dua tahun gak mancing. Kangen banget, kangen dengan alamny, kangen dengan sensasi memancingnya dan yang terakhir kangen dengan kebersamaannya. Kangen dari kangen yang paling kangen denan memancing. Kapan ya, bisa mancing lagi?

By Nurmaila Sari

Nurmaila Sari | Alumni, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA | Asal Pekanbaru, Riau | @nurmailasarii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *