Loading

Di pondok santri (seharusnya) sudah terbiasa prihatin. Bukan hanya soal tempat tidur yang bergabung dengan santri lainnya dalam satu asrama (walau tetap terjaga dengan masing-masing satu tempat tidur yang terpisah) atau soal cucian baju dan ketika kering tidak sempat disetrika, ternyata juga harus prihatin soal makanan. Ya, makanan di pondok tak setiap hari seperti di rumah dimana orangtua sudah menyesuaikan dengan selera anak-anaknya. Ada hari-hari tertentu, biasanya hari Jumat saat libur KBM atau di hari Senin dan Kamis ketika buka shaum, yang menunya spesial. Setidaknya 3 hari itu ditunggu santri Pesantren Media. Selebihnya selama 4 hari dalam satu pekan santri perlu beradaptasi dengan menu yang kadang hanya nasi dicampur telor plus gorengan. Satu waktu, sarapan hanya nasi ditemani lauk perkedel saja. Tempe dan tahu sepertinya adalah menu yang ‘dipaksa’ jadi favorit.

Soal menu makanan, ada santri yang sudah terbiasa menerima apa adanya, apalagi uang saku juga terbatas. Maka, tak ada jalan lain selain menyantap makanan yang sudah disiapkan di dapur. Namun, ada juga santri yang uang sakunya cukup banyak atau ingin merasakan menu lainnya, akhirnya beli makanan di luar pondok. Itu terjadi biasanya di awal bulan saat dompet masih tebal karena baru dikirim uang saku dari ortu. Hehehe… di pekan ketiga atau keempat biasanya santri tetap semangat menyantap makanan yang disediakan pondok. Insya Allah.

Selain untuk membiasakan prihatin, santri juga dididik untuk berbagi. Adakalanya dalam beberapa waktu, dapur perlu pengiritan agar tetap ngebul. Alasan yang paling sering adalah ketika beberapa orangtua/wali santri telat mengirim uang bulanan untuk biaya boarding dan SPP—padahal dari sini komponen utama dapur bisa ngebul. Orangtua/wali santri pada beberapa waktu hanya bisa kirim uang saku untuk putra-putrinya saja. Kadang, lebih dari satu orang dan lebih dari satu kali tidak bisa mengirimkan biaya bulanan.

Insya Allah kami memaklumi kondisi seperti itu yang sejak awal berdiri Pesantren Media memang tak pernah ‘memulangkan’ santri yang bermasalah dalam biaya. Apalagi jika santri yang bersangkutan baik akhlaknya dan rajin belajar, terlebih berprestasi. Kami tetap mempertahankan santri yang bersangkutan sambil terus berkomunikasi dengan orangtua/wali santri untuk mencari jalan keluarnya. Sering juga kami mengajak beberapa kenalan untuk menjadi donatur bagi beberapa santri yang orangtuanya mengalami kesulitan dalam pembayaran bulanan. Alhamdulillah, selalu ada jalan keluar.

Ya, insya Allah, itu karena barokah yang Allah Ta’ala berikan. Kami sering menanamkan kepada para santri, bahwa kebersamaan kita di pondok ini jauh lebih penting. Kita bisa saling membantu dengan santri lainnya. Maka, bersabarlah meski berdampak pada jatah menu makanan yang disesuaikan dengan kondisi keuangan dapur tersebab banyak santri lainnya belum bayar bulanan. Insya Allah, yang penting semua santri bisa makan walau menunya “itu-itu saja”, tapi insya Allah halal, mengenyangkan, dan thayyib. Semoga Allah Ta’ala memudahkan segala urusan kita dan memberkahi kehidupan kita. Aamiin.

Salam,
@osolihin
Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *