Loading

Judul buku: GORAN: Sembilan Bintang Biru | Penulis: Imelda A. Sanjaya | Penerbit: Serambi, Desember 2007 | Jumlah halaman: 336 hlm.

            Dalam cover buku ini terulis “Sembilan Bintang Biru”, tapi yang saya temukan dibuku ini hanya tiga orang yang memiliki bintang biru. Bintang biru itu bagaikan kelebihan yang ada pada seseorang yang memilikinya. Orang-orang yang memiliki bintang biru ini disebut telah ‘Disinari’. Orang-orang yang telah ‘Disinari’ ini memiliki kekuatan.

Aniki Kodama, mampu meledakkan apa saja dengan tangannya. Orphann, bisa mengembalikan serangan sebesar apapun serangan itu. Xin Ai, seorang putri dari bangsawan di masa Dinasti Ching, jago kungfu dan strategi perang. Xin Ai, mampu melihat dalam jarak yang jauh dan mampu melihat menempus tembok setebal papun.

Buku ini cocok dibaca bagi orang yang suka dengan Negara Jepang. Karena setting awalnya di Jepang. Tapi, orang Indonesia yang ga suka sama Negara Jepang, pasti keteteran dah dengan bahasanya. Tapi jangan khawatir! Pengarang buku ini mempunyai daya khayal yang tinggai. Setting tempatnya enggak cuma di Jepang kok, tapi di luar angkasa juga.

Cocok juga bagi remaja yang mempunyai daya khayal yang tinggi. Pusaran-pusaran yang di sebut ’Lorong waktu’, air terjun hitam, jurang maghnet, Planet Vida, matahari yang ada 2 bahkan 3, bentuk planet yang gepeng dan masih banyak lagi keanehan atau benda-benda yang tidak masuk diakal.

Tokoh-tokoh ‘Figuran’ di cerita ini kaya ‘tempelan’. Terkadang, BAB yang di ceritakan enggak focus sama garis besar BAB itu.

Awalnya saya kebingungan membaca buku ini, saat ceritanya tiba-tiba beda orang dan setting tempatnya juga beda. Setelah jauh saya membaca, akhirnya ketiga perbedaan cerita itu, menyatu. Aniki, Oprphann dan Xin Ai bersatu. Mereka di pertemukan lewat pusaran-pusaran yang menghantarkan mereka. Pusaran itu seperti mesin waktu, atau bahkan seperti pintunya doraemon ‘Pintu kemana saja’. Dengan pusaran itu Aniki bertemu dengan Orphann, begitu juga mereka bertemu dengan Xin Ai.

Buku ini sangat enak di baca, walaupun banyak bahasa yang saya sulit mengerti bahkan sulit untuk mengucapkannya. Ceritanya juga singkat-singkat, jadi engga cepet bosen. Semakin jauh baca, semakin penasaran dengan ceritanya. Tapi sayang, endingnya bikin ‘Jleg’, kayanya sh, si pengaran mau buat Goran ke 2 dan 3. Setelah baca endingnya ‘Loh! Kok gini’.

 

[Holifah, santri jenjang SMA, Pesantren Media]

By Nurmaila Sari

Nurmaila Sari | Alumni, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA | Asal Pekanbaru, Riau | @nurmailasarii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *